Watu Semar di Alun-alun Dibuat Ritual??!

Watu Semar di Alun-alun Dibuat Ritual

Bojonegoro – Keberadaan Watu Semar di alun-alun Bojonegoro sering menjadi lokasi ritual oleh orang-orang tertentu. Benarkah?!

Hal ini pernah disampaikan Sambudi (45), penjual keliling yang pernah melihat sekelompok masyarakat melakukan ritual seperti memasang dupa dan menebar bunga-bungaan pada tahun 2016 silam.

“Pernah dibuat ritual, itu..kalau tidak salah tahun 2016-an,”ujarnya.

Dari keterangan yang didapat, warga yang datang pada malam hari itu hanya melepaskan kerinduan pada batu yang berbobot 80 ton tersebut.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, batu yang berasal dari Kecamatan Gondang itu, menyerupai tokoh Semar, yaitu salah satu karakter pewayangan dalam mitologi Jawa yang memiliki badan tambun dan merupakan salah satu anggota Punakawan.

Batu berukuran panjang 4 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 3 meter ini dulunya berlokasi di Desa Krodonan, Kecamatan Gondang, Bojonegoro.

Dari sumber yang enggan menyebut identitasnya, sebelun diangkut di alun-alun Bojonegoro 2015 silam ternyata batu ini sering masyarakat gunakan untuk tempat ritual ngalap berkah.

“Kebanyakan, warga daerah lain pun ikut berdatangan juga ke sana agar hajatnya bisa terkabul,”ujar sumber itu.

Ketika watu semar masih disana, warga membawa berbagai aneka sesajian. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang hajat atau keinginannya terkabul, akan datang kembali ke lokasi Watu Semar.

Dibuatnya batu Semar sebagai lokasi ritual tidak lepas dari sejarahnya yang terbentuk dari letusan Gunung Pandan yang terletak 6 kilometer di selatan Desa Krondonan ribuan tahun silam.

Gunung Pandan merupakan gunung di bagian selatan Bojonegoro yang menjadi perbatasan antara Kabupaten Bojonegoro dengan Kabupaten Nganjuk dan Madiun.

Desas-desusnya yang beredar di masyarakat, Watu Semar ini memiliki kaitan spiritual dengan penguasa Gunung Pandan, yaitu Eyang Gendro Sari.

“Saya secara pribadi, kurang enak lihat batu itu dijadikan ritual. Kalau wisata tidak apa-apa. Cuma ya selama ini kok tidak bisa dibuat sarana wisata ya? lebih baik dipindahkan lagi saja,”pungkasnya. (*Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *