Transkip Kawangen dan Kawengan

Pastipas.id – Catatan prasasti Canggu dan Adan-adan tentang sebuah tempat membawa Didik Wahyudi, seorang pegiat sejarah Bojonegoro, untuk bertanya ke beberapa orang. Prasasti Canggu yang dibuat jaman Hayam Wuruk cucunya Dyah Wijaya raja pertama Majapahit menyebut nama desa Kawangen sebagai salah satu Naditira Pradeca di Bojonegoro.

Desa Kawangen tentu saja berada di tepi sungai Bengawan Solo sebagai desa pelabuhan, desa penyeberangan sungai. Menurut Didik, ada tiga petunjuk yang mengarah ke Desa Kawangen saat ini yaitu Kawengan, Kwangenrejo dan Kaweng.

Tetapi di peta Belanda tahun 1922 nama Kawengan tak tercatat padahal nama Wonocolo dan Kedewan tercatat dalam peta tersebut, Didik curiga nama Kawengan lebih muda lagi muncul di kemudian hari. Atau ada catatan lain yang bisa disandingkan untuk membantah ini.

Didik menyebutkan, dugaan sementara menyisakan dua nama Kwangenrejo di Desa Leran Kalitidu dan Dusun Kaweng Desa Semlaran Kec. Malo. Dua nama ini yang mengarah nama tempat Kawangen di prasasti Canggu tempat agak berjauhan, Dusun Kwangenrejo jauh dari Bengawan solo dan Desa Kaweng tepat di tepi sungai Bengawan Solo.

Bacaan Lainnya

Tetapi ia juga menyebutkan, “aliran sungai Bengawan Solo ki mengalami perubahan-perubahan karena alam. Kelokan sungai dan sendimentasi membuat aliran bisa berubah-ubah. Sementara Kaweng di peta 1922 tercatat dukuh Kowang, apakah sama Dusun Kaweng dan Dukuh Kowang meski lokasinya sama? Bisa jadi sama.”

Naditira pradeca Kawangen berurutan dengan i Sudah dan i Malo kedua nama tempat terakhir ini masih bisa kita temui hingga sekarang dan tentu di tepi sungai Bengawan Solo. Sementara Kawengan yang tercatat di prasasti Adan-adan jaman Dyah Wijaya raja pertama Majapahit sebagai batas wilayah adan-adan sebagai swatantra yang dihadiahkan kepada Rajarsi, seorang pendeta perempuan yang setia kepada raja.

Batas wilayah swatantra ini berurutan dengan batas Tinawun, Jajar, patambangan, tambar, padasan dan lainnya. Tinawun dan Jajar masih bisa ditemui di kecamatan Malo, Tinawun menjadi nama desa sekarang ini dan Jajar menjadi nama Dusun di Desa Petak.

Saat Didik bertanya soal Kawengan dan Kawangen ke Prof. Aris Munandar menurutnya dari kajian metatesis kedua kata Kawengan dan Kawangen pengucapan terdengar sama. Weng dalam bahasa Jawa kuno dimaknai sebagai pecahan gerabah, atau bahasa Jawa modern kreweng, pecahan genteng. Untuk menguatkan hal tersebut harus ada bukti arkeologis baik di Kawengan saat ini atau nama tempat lain.

Ia juga masih curiga dan bisa jadi Kawangen dan Kawengan yang disebut oleh Dyah Wijaya maupun Hayam Wuruk dalam prasasti Canggu maupun Prasasti Adan-adan adalah nama tempat yang sama, atau mengalami perubahan pengucapan karena rentang waktunya 57 tahun dari raja pertama ke raja ke empat saat pembuatan prasasti tersebut.

“Tapi di perbandingan transkip huruf dari prasasti Canggu dan Adan-adan masih menyebut dan pengucapan berbeda, Kawangen dan Kawengan seperti di foto ini,” pungkasnya. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *