MARNI (Bagian 5)

Pastipas.id – Sanikem nampak terkejut. Dan Marni mengerti mengapa, ia belum juga memberikan surat persetujuan itu pada ibunya semenjak hari lalu. Memang Marni berencana menentang pembangunan pabrik baru bagaimanapun cara. Dan mereka para penarik surat persetujuan itu, yang berjumlah dua lelaki, nampak tak berbasa-basi. Mereka bahkan bertamu saat sedang hujan deras begini.

Ah, bahkan mereka bukan tamu, boleh saja untuk kusebut perampok, kan?

Dua orang itu tak mau duduk. Jadi Marni dan Sanikem terpaksa menemui mereka di depan pintu, berbincang sambil berdiri.

“Aku tak berencana menjual tanahku,” Marni menegaskan.

Bacaan Lainnya

Dari raut mukanya, mereka mungkin telah mendapat banyak penolakan dari sepanjang rumah yang ada. Dan Sanikem yang sedari tadi diam mulai mencerna situasi. Ia meminta Marni masuk ke dalam rumah. Alih-alih tak ingin anak gadisnya berangin-angin malam di luar, ia ingin cepat mengusir dua orang itu.

“Bawakan suratnya, Nduk. Tuliskan kalau kami tidak setuju!”

Begitu dua orang itu pergi, Sanikem segera menutup pintu rumah.

Malam semakin gelap, dan sedih yang belum reda membuat malam di rumah itu semakin senyap. Hujan pula menambah gundah. Hujan pula bertambah deras dan deras.

“Boleh kubaca sendiri catatan ini, Buk?”

Marni meminta izin pada Sanikem yang menuju ke kamar.

“Tentu. Aku mengerti kau ingin tahu, Nduk. Sekarang biarkan aku menenangkan diri.”

Dan Sanikem berlalu.

Marni memindahkan labu yang belum selesai terkupas itu ke dapur yang tak jauh. Dan lalu pergi ke kamar yang dindingnya disekat lemari-lemari tak terlalu besar. Dan bukan dinding yang sesungguhnya.

Tetapi pun persoalan dinding tak jadi penghuni pikiran Marni. Yang ada dirinya tak sabar membaca catatan yang tak begitu banyak itu. Catatan yang menjadi peninggalan satu-satunya dari Pak Paiman. Catatan yang akan memunculkan budaya baru .

Marni segera duduk di atas ranjang tidurnya yang bukan ranjang tidur sesungguhnya. Toh itu hanya sebuah serangkaian kayu yang dibuat seperti ranjang dengan blabak seadanya. Bahkan pun kalau tak ada blabak sebab kayu sangat mahal, orang-orang desa kerap kali menggunakan bambu yang dirangkai seperti widhik. Ditaruhnya widhik itu di atas ranjang buatan seadanya, dan lalu di atasnya ditambah kloso yang terbuat dari anyaman pandan.

Dan Marni duduk di atas kloso pandannya itu. Hatinya tegang hendak membuka catatan. Pun pikirannya dicampuri rencana besok pagi, bahwa dia harus pergi ke markas seorang diri. Memang sudah semestinya begitu, sebab Suwito tak mungkin menjemputnya di rumah.

Jam dinding yang jarum detiknya sudah rusak itu menunjukkan pukul sembilan malam. Dan ia terus berjalan. Dan Marni memberanikan diri membuka halaman pertama.

” Mbah Nyoman “

Seorang lelaki berperawakan tak terlalu tinggi berkulit kuning langsat berjalan menuju kawasan Pabrik Goela Djawa di desa Sambi. Tatapan matanya tak dapat dibaca oleh orang seperti Pak Paiman yang seharinya hanya fokus bekerja dengan mesin. Dengar-dengar, rupanya itu Mbah Nyoman. Tak begitu mengerti siapa gerangan nama aslinya. Hanya, orang-orang memanggilnya begitu.

Dari bagian gedung pemerasan tebu yang baru jadi sebagian, terlihat Mbah Nyoman sedang memarkir sepeda onthelnya. Sepeda onthel Fongers hitam tua. Sepeda buatan Belanda itu nampak sangat gagah untuk Mbah Nyoman. Apalagi, Mbah Nyoman sendiri memakai setelan jas sederhana tetapi elegan dalam satu sisi, membuat lelaki berusia 60-an itu cukup menawan.

Menyoal alasan mengapa Mbah Nyoman pergi ke pabrik, rupanya ia sudah sejak lama menjadi salah satu investor utama. Pun demikian, ia tak pernah menjadi pengunjung pabrik selain peresmian bangunan baru. Kesehariannya sibuk mengurus toko yang juga toko paling besar di desa. Toko serba ada. Dan tentu saja, ternak sapi dengan lahan yang luas.

Mbah Nyoman berlalu, pergi ke dalam bangunan pabrik dan meninggalkan Fongers hitamnya. Dari dalam pabrik terlihat lelaki setengah baya menyambut dan menyalaminya. Kepala bagian pabrikasi, dengan setelan seragam lapangan, mengantar Pak Nyoman masuk menemui pimpinan.

Mariyo Gamin, pimpinan pabrik dengan kesibukannya di meja menyadari Mbah Nyoman menemuinya. Duduklah Nyoman di kursi yang disediakan untuk tamu. Dan kepala bagian pabrikasi undur diri lalu menutup pintu.

“Kau sudah lama tak berkunjung,” Mariyo menyalami Nyoman dan ikut duduk di depannya. “Perkara itu kah kau datang?”

Tak ada kopi atau teh disajikan, sebab tak ada perempuan barang seorangpun di kawasan pabrik. Hanya ada sebuah pisau dan dua buah mangga di meja yang belum dikupas.

“Mestinya kau pikir-pikir,” Nyoman tak basa-basi dan memulai titahnya. “Barangkali aku tak lagi mau menyokong keuanganmu kalau kau terus begini,” ungkapnya.

“ Begini ?” Mariyo memastikan bahwa yang dibicarakan Nyoman adalah tentang pembuangan serat tebu dan limbah cair di area yang terlalu dekat dengan pemukiman warga.

“Kau mengerti betul tempat kau buang serat itu dekat perternakanku? Dan limbah cairnya sebagian kau buang ke sungai, dan sebagian lainnya di dekat penampungan air bersih. Sapi-sapiku minum dari air sungai di dekat situ.” Nyoman menjelaskan. Gelagatnya menyimpan amarah. Dan sudah barang tentu sebab beberapa sapinya jatuh sakit.

Mariyo mengubah posisi duduknya. “Begini,” lelaki tua yang sudah beruban itu menatap Nyoman serius. “Sebagian tanah tempatku membuang limbah itu sudah kubeli, dan aku sudah dapat juga sertifikatnya,”

“Belum juga kau paham apa maksudku?” Nyoman memotong.

“Kau yang tak paham apa maksudku!” Mariyo tak kalah kerasnya.

Mbah Nyoman mulai segan. Ia berpaling muka. Ditatapnya ventilasi udara yang tak begitu besar di ruangan itu. “Aku mengerti Martin Sastro selalu mendukungmu,” tuturnya kembali.

“Ya. Sudah barang tentu,” Mariyo mengambil mangga dan pisau di depannya, mulai mengupas.

“Selagi untung,” imbuh Nyoman bernada ironi. “Lagipula, kau beri upah berapa hingga Martin Sastro menyetujui berdirinya pabrikmu itu?” kemudian tanyanya.

Sambil mengunyah mangga yang sedikit saja, Mariyo tersenyum masam. Diletakkannya kembali pisau dan mangga itu. “Mengapa tiba-tiba kau bahas itu, Man? Kau bahkan membantuku dengan uangmu,”

“Kau tahu,” Nyoman melepas kancing kemeja bagian lehernya, rupanya ruangan ini agak panas. “Pabrikmu itu sudah sangat bermasalah sejak lama. Di kota lain pabrikmu tak boleh berdiri, sebab memang nilai PROPER pabrikmu saja masih merah,”

“Kau menaruh kasihan padaku?”

“Hanya karena kau anak asuh bapakku, aku membantumu.” Nyoman berterus terang. “Dan serat tebumu itu mestinya kau pikirkan!”

Mariyo tersenyum, sambil lalu berjalan ia ke meja kerjanya, “Bukan urusan kemana perginya limbah-limbah itu, Man! Bukan urusan!”

“Lalu kau anggap apa kedatanganku ke sini? Terus-terusan kau buat peternakanku merugi?”

“Belum ada dana untuk pengolahan limbah, Man,” Mariyo kembali ke tempat duduknya. Diajaknya Nyoman berunding. “Sebaiknya kau tanda tangani izin pembuangan limbah sementara di lahan satunya, di dekat peternakanmu itu,”

Mariyo meletakkan dokumen persetujuan yang harus ditanda-tangani Nyoman. Pasalnya, tanah pembuangan limbah itu bukan seluruhnya milik Mariyo, tetapi juga milik Nyoman sebab selingkup kawasan peternakan.

Nyoman muntab. Ia berdiri, “Kau melakukan ini padaku sebab masalah anak perempuanmu dengan anak bungsuku?” dengan gayanya yang elegan itu Mbah Nyoman berang.

Mariyo berpaling muka. Percakapan telah sampai pada pembahasan yang terlalu pribadi. Dan ingatlah ia pada anak bungsu Nyoman yang menolak anak perempuannya saat mereka akan dijodohkan. Mengingat ini Mariyo tak kalah berang.

“Kau pikir aku terima anak perempuanku ditolak begitu, Man?”

“Ramli menolaknya baik-baik!”

Lagi-lagi, jam dinding yang jarum detiknya sudah rusak itu terus berjalan. Dan kini ia telah sampai pada pukul sebelas malam. Marni menutup catatannya yang baru dibaca sedikit saja. Perasaannya tercekat pada kenyataan bahwa fakta yang ada sangat dekat dengan dirinya. Dan, Ramli.

Ramli! Kau kah itu?

Marni menutup selambu pintu yang sudah usang. Yang kainnya sudah banyak tergores dan robek-robek sebab tipis sekali. Tetapi siapa peduli dengan keadaan selambu itu. Hati Marni kini penuh dengan antusias kebenaran yang akan terus ia dapatkan.

Dan catatan milik ibunya! Dan cerita dari bapaknya! Kasus yang sudah lama itu kini lagi-lagi jadi penghuni pikiran. Ia tak sabar ajukan banding dan menang sidang. Ah, tak perlu sejauh itu. Ia tak sabar ingin dengar barang sekalimat saja dari Ramli tentang apa yang sebetulnya terjadi. Dan tahukah kawan-kawan tentang fakta itu? Tahukah mereka?

Lebih dari satu jam Marni membayang hari-hari selanjutnya. Matanya tak dapat dipejam barang sebentar saja. Tetapi hari sudah tengah malam. Dan tak ada suara apapun yang terdengar dari luar. Marni mematikan lampu ubliknya. Biar bagaimanapun, ia harus tidur. Biar bagaimanapun! (Flo)

No Plagiat!

Allah Maha Melihat ya gaes yaaa

Enjoy!

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *