MARNI (Bagian 4)

Pastipas.id – Menyoal Kelompok Investigasi yang berhasil mengajukan tuntutan dua tahun lalu, mereka punya seorang relawan di dalam markas. Ramli, salah seorang anggota markas, baru saja lulus SLTA dan anak seorang pengacara di kota Boene.

Ia membantu anak-anak para korban untuk mengusut kasus ini. Lelaki itu kakak kelas Suwito dan Suwardi, kakak beradik yang membawa Marni ke markas. Dari organisasi sekolah mereka bertemu, dan lalu panjang cerita mereka sampai pada titik saling bekerja sama.

Sewaktu kali pertama melihat Ramli, Marni jelas dapat melihat perbedaan antara lelaki itu dengan dirinya, dan diri anak-anak lain pula. Lelaki itu nampak lebih bergaya dari pakaian dan pikiran. Lelaki itu nampak lebih bergaya dari tutur kata dan tulisan.

Dilihat dari manapun, Ramli memang cukup cerdas, karenanya dia bertindak adil untuk diri sendiri dan kawan-kawan. Dia bertugas menulis apa-apa yang penting untuk kepentingan investigasi. Dalam sekejab mata Marni sudah kagum dengannya.

Bacaan Lainnya

Dalam sekejab mata Marni sepakat bahwa di dalam dunia memang sudah semestinya ada orang-orang seperti lelaki itu. Pukul tujuh malam. Sanikem melihat ke arah jam dinding yang jarum penunjuk detiknya sudah rusak.

Tetapi toh demikian jam itu masih dapat berjalan dengan tepat. Ia duduk di kursi tamu yang juga menjadi tempat makan. Sambil meneruskan sulamannya yang belum selesai, Sanikem memulai percakapan dengan nada agak tak ramah.

“Pak Dhe Maijan bilang kau pergi tak tahu kemana bersama dua lelaki. Betul?”

Marni duduk juga di sana. Ia telah sampai rumah satu jam yang lalu, dan demikian dia dimarahi ibunya sebab keadaan sedang hujan deras. Sambil mengupas labu untuk dimasak besok pagi, Marni menjawab pertanyaan ibunya dengan mencoba sangat apa adanya.

“Ya. Aku mengenal mereka.”

“Belum pernah aku lihat kau berkawan dengan lelaki barang seorang pun.”

Sanikem terus menyulam.

“Pun aku baru tadi siang mulai mengenalnya, Buk.”

Dan Sanikem berhenti menyulam dalam sejenak. Ia melihat Marni dengan mata bertanya. Tetapi Marni diam, ia justru ingin beralih dari pembicaraan ini.

“Buk,” Marni berhenti mengupas labunya yang tinggal sedikit lagi saja.

“Bapak tak meninggalkan catatan apapun saat meninggal?”

Marni mengerti betul kalau Sanikem akan tak baik-baik saja setiap kali membahas bapaknya. Biar begitu ia memaksakan diri sebab rasa penasarannya telah sampai di ujung tanya. Dan seperti dugaan Marni, ibunya diam.

Setiap kali membahas tentang Pak Paiman, bapak Marni, Sanikem selalu tak ingin terlibat. Pun sambil membawa sulamannya yang belum selesai, ia kini pergi dari duduknya dan meninggalkan Marni yang menunggu jawab.

Sudah biasa. Sudah biasa Marni menerima abai. Dan dalam pikirannya yang terus bekerja, Marni kembali mengupas labu dengan tenang.

Tetapi belum lagi pisaunya itu mengenai kulit labu yang basah, dari ekor mata Marni melihat ibunya kembali menemuinya. Diletakkannya kembali pisau dan labu yang sedari tadi ia abaikan.

Sanikem membawa sebuah catatan!Entah mengapa, Marni tegang menatap catatan di tangan ibunya. Isi kepalanya pasti telah menggambarkan apa yang ada di dalam catatan Pak Damin, meski bisa saja mungkin berbeda.

“Bapakmu tak bisa membaca, apalagi menulis.”

Sanikem duduk kembali di kursi sebelumnya. Ditinggalkannya sulaman yang belum selesai itu di kamar, dan kini di tangannya hanya ada sebuah buku tulis sedang yang biasa Marni gunakan sekolah dulu.

Marni meletakkan labunya.

“Lalu itu catatan apa, Buk?”

“Akan kujelaskan seluruhnya, Nduk.”

Sanikem meletakkan buku itu di meja. Lebih tepatnya, disodorkannya di depan Marni yang pikirannya tak kunjung bisa menerka.

Apa gerangan ini sebenarnya?

“Itu tulisanku,” Sanikem memulai.

“Dua bulan sebelum meninggal, Bapakmu selalu pulang babak belur. Mungkin kau tak menyadari itu, tapi dia sering mengeluh dan tubuhnya menjadi lebih rentan. Aku yang menyadari itu mencoba bertanya apa yang terjadi, tapi bapakmu yang keras kepala menutupi semuanya. Katanya, ia tak bisa bercerita.”

“Mengapa tak bisa bercerita?” rasa penasaran Marni menyela penjelasan ibunya.

“Biar kulanjutkan dulu,” Marni terpaksa mengalah.

“Biar mencoba bertahan seluruh waktu, bapakmu akhirnya bercerita padaku suatu sore ketika merasa apa yang ia alami sudah cukup parah.”

Jam dinding yang jarum detiknya sudah rusak itu terus berjalan, dan hati Marni berdegup kencang mendapati kebenaran kedua setelah apa yang diterimanya di markas.

“Pabrik gula tempat bapakmu bekerja itu beroperasi curang, Nduk. Pendiri dan kepala bagiannya korupsi, produksinya menyusahkan warga, limbah sisa pemerasan tebu dibuang di tempat penampungan air bersih warga. Bapakmu dan kawan-kawannya mengetahui itu semua. Tetapi toh, orang kecil memprotes tak ada gunanya. Yang ada justru disingkirkan dari dunia. Mereka itu bukan manusia, Nduk!”

“Tetapi dari mana bapak tahu itu semua?”

“Bulan April 1966, warga desa Sambi banyak yang terkena sakit gatal dan iritasi parah sampai puskesmas kecamatan tidak dapat menampung. Kau ingat?”

“Yang waktu Ibu dan aku menilik Mbah Kakung yang juga sakit gatal.”

“Tentu kau ingat, Nduk. Sejak saat itu, setiap kali bapak dan rekan-rekannya berangkat kerja selalu mendapat protes di jalanan. Warga peka air bersihnya terkontaminasi limbah dan mencurigai pihak pabrik. Dengan begitu bapakmu menanyakan kebenaran kepada kepala bagian pabrikasi.”

“Sendirian?”

“Tentu tidak sendiri. Dia ditemani beberapa rekannya. Tetapi apalah yang diharapkan dari orang yang sudah terlanjur korupsi. Kepala bagian dan bahkan kepala pabrik sengaja melakukan itu untuk mempersempit pengeluaran. Dan tentu saja, sebab membuat penampungan limbah lagi mengeluarkan uang yang tidak sedikit.”

“Tetapi mestinya bapakku tak harus mati.”

“Karena bapakmu adil dalam kehidupannya, Nduk.”

“Karena bapak mengetahui hal yang tidak seharusnya dan tak mau bekerja sama menyembunyikan fakta?”

“Kau benar. Meskipun miskin, bapakmu menaruh sisi kemanusiaannya di tahta paling tinggi. Bagaimana mungkin orang dapat diam saja menyembunyikan fakta, apalagi menerima upah tambahan, sedang orang lain tidak hidup dalam semestinya?”

“Bapak tak mati sia-sia.”

“Tentu.”

“Tetapi bagaimana pula dengan warga yang memprotes tindakan pabrik itu? Mengapa tak aku dengar lebih jauh mereka berdemo?”

“Mestinya kau paham mereka telah diteplok uang oleh pihak pabrik.”

“Diminta diam?”

“Ya. Dan jangan marah kau, Nduk, aku pun diperlakukan demikian.” Sanikem menahan tangisnya.

“Ibu diberi uang supaya diam meskipun ibu memiliki bukti?”

“Ya. Meski kutolak, uang itu diselipkan di sudut rumah kita. Mengajukan tuduhan kepada mereka hanya akan dapat tuduhan kembali.”

“Ah,” Marni menahan amarahnya.

Marni menahan tangisnya yang hampis saja pecah. Tetapi belum juga air matanya terjatuh, ketukan pintu yang keras mengagetkan ia dan ibunya.Gedoran pintu itu!

“Kami petugas yang mengedarkan surat persetujuan penjualan lahan pertanian untuk pembangunan Pabrik Goela Djawa.” (Flo)

No plagiat!

Allah Maha Melihat ya gaes yaaa

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *