Marni (Bagian 3)

Pastipas.id – Sudah pukul dua siang. Marni terpikir ibunya mungkin sudah di rumah dan akan mendapati dirinya belum pulang. Tetapi rasa penasaran tentang markas membuat ia berada di sini, di depan bangunan tua di samping sungai pembatas desa Trembayan dan desa Sambi. Bangunan itu lebih seperti rumah Belanda yang sudah tak berpenghuni lama.

Sisi samping kiri rumah tersebut terdapat perengan yang terhubung langsung ke sungai, sedang sisi samping kanannya lereng landai dengan pohon-pohon yang cukup tinggi. Belakangnya bekas kebun yang sekarang telah ditumbuhi semak-semak yang kelihatannya memang dibabat sebagian oleh penghuni markas.

Begitu Marni memasuki bangunan itu, semua orang sedang berbincang satu dengan yang lain. Sekilas pandang mata Marni dapat menghitung mereka berjumlah lebih dari sepuluh orang, belum lagi dirinya dan dua pemuda di sampingnya.

Duduklah ia di salah satu kursi yang kosong. Dari situ ia dapat menilai rupanya bangunan ini cukup luas. Di setiap dinding ruangan putih itu banyak sekali rak yang nampaknya mereka buat sendiri, dan di rak itu bertumpuk buku-buku catatan yang berserakan tetapi manis dipandang.

Bacaan Lainnya

Belum lagi lama Marni melihat sekeliling, tatapan mata-mata rekan di dalam markas memandangnya lekat. Marni tak tahu apa yang ada di dalam kepala mereka. Lebih tepatnya, Marni penasaran apa yang ada di dalam kepala mereka.

“Bapak kau meninggal juga di pabrik itu?” seorang dari mereka bertanya kepada Marni.

Perempuan, nampaknya ia jauh lebih tua dibanding dua pemuda yang Marni temui di lahan, lagaknya memimpin, dan mungkin memang ialah pemimpin markas ini.

“Ya.”

“Namamu?”

“Marni,” jawab Marni singkat sesuai pertanyaan.

Perempuan itu nampak ketus, tetapi perasaan Marni mengatakan ia lebih lembut dari yang diduga. Hanya, tatapan matanya memancarkan dendam yang seolah tak pernah habis.

“Namaku Lami.” Perempuan itu, Lami, menyalami Marni dengan hangat sekaligus kuat.

“Kalau kau bergabung, kau harus merahasiakan markas ini kecuali kami memutuskan aksi terbuka,” jelasnya lugas. Dan sebagai anggota baru Marni mengangguk saja.

Usai saling berkenalan, Lami dibantu kawan-kawan lain mulai menjelaskan mengapa markas ini dibentuk. MIK PG66, Markas Investigasi Korban Pabrik Gula 1966, mereka menyebut persembunyian mereka demikian.

Kelompok Investigasi itu dibentuk karena usai mendapati bapaknya meninggal, Lami menemukan catatan yang mengejutkan di lemari baju bapaknya. Hari itu Lami telah cukup dewasa untuk mengerti, ia sudah 17 tahun.

Catatan itu bukan berupa sobekan kertas biasa, melainkan buku harian yang ditulis detail selama kurang lebih satu bulan. Dihitung sejak 4 Februari 1966, Pak Damin, bapak Lami menulis catatan setiap pulang dari bekerja di Pabrik Goela Djawa selama sebulan penuh, sebelum akhirnya menghilang selama sebulan setelahnya, dan lalu dibawa pulang dengan kabar tewas karena kecelakaan kerja. Dalam catatannya itu, tertulis bahwa ia mendapat ancaman pembunuhan dari atasannya.

Bukan tanpa alasan hal itu terjadi. Catatan Pak Damin mengungkapkan bahwa dirinya dan beberapa pekerja lain mendapat ancaman karena ia sempat melaporkan bahwa beberapa alat pengolahan gula mengalami kerusakan sehingga harus diperbaiki. Namun demikian, Kepala Bagian Pabrikasi tidak bertindak apapun.

Hal ini tentu merepotkan pekerja. Belum lagi tentang limbah air sisa perendaman tebu yang diam-diam dialirkan ke embung tempat warga sekitar menyimpan air bersih yang tentunya akan dibuat mandi, masak dan kehidupan rumah tangga lainnya.

Yang lalu menimbulkan keresahan warga karena meningkatnya penyakit kulit seperti gatal-gatal yang cukup parah. Pun tetapi warga tak pernah tahu seluk beluk dari limbah pabrik yang berdampak pada mereka.

Menyadari ini sudah cukup keterlaluan, Pak Damin yang merasa resah menceritakan ke beberapa pekerja lainnya untuk memprotes. Tetapi toh tak menghasilkan apapun.

Lama-lama Pak Damin dan yang lainnya mengetahui bahwa pihak pabrik berbuat kecurangan, mulai dari kepala bagian hingga pemiliknya tak mau rugi dan korupsi. Produksi besar-besaran, upah pekerja sedikit, uang atasan dan pemilik perusahan berlimpah ruah. Begitulah kira-kira catatan Pak Damin bercerita.

“Tetapi mengapa bapak kita harus sampai mati begini?” Marni merasa tak karuan.

“Karena mereka tak mau siapa saja menjadi penghalang. Kecurangan mereka tersebar berarti mereka akan bubar. Dan pembantaian adalah satu-satunya cara agar mereka bisa bertahan.”

Salah seorang di Markas itu menjelaskan. Dia Suwito, salah seorang pemuda yang membawa Marni ke markas ini.

Kilat menyambar udara di luar rumah Belanda ini. Hujan sangat deras. Hati mereka yang ada di dalam markas sudah sampai pada suatu tingkat di mana kesakitan jiwa mampu mengalahkan ketakutan.

“Kami di sini untuk membuktikan bahwa catatan bapakku benar.”

Lami berpindah duduk di sebelah Marni. Dan lalu melanjutkan kalimatnya, “Semua keluarga yang menjadi korban memang mengetahui ada yang tak benar dengan kematian pekerja pabrik, tetapi mereka dibungkam menggunakan uang yang tak seberapa. Kalau kau bertanya mengapa mereka tak pernah menuntut dan mengungkap kebenaran, sudah pasti jawabannya karena mereka terlalu lemah. Karenanya kita, anak muda yang harus mengambil tindakan. Tanpa itu kita hanya akan terus dikalahkan. Dikalahkan selama-lamanya.”

Marni menatap Lami dengan nanar, seperti saat ia menatap mata ibunya. Perasaan kehilangan itu pasti telah membuat gadis di depannya itu gila. Sampai-sampai berani berlaku begini.

“Dua tahun yang lalu,” Suwito memulai ceritanya.

“Kami mengajukan tuntutan kepada pihak pabrik. Kerabat yang ikut merasa tak terima mulai mendukung. Tetapi, sidang dilakukan secara tertutup. Itu pun tidak bisa kusebut sidang, hanya pengadilan adat di kota. Hasil pengadilan menyebutkan catatan Pak Damin tidak dapat dibuktikan kebenarannya, sebab dari banyaknya korban hanya seorang saja yang menuliskan catatan itu. Dibilangnya bisa jadi hanya karangan.”

Sambil menahan geram ia bersuara.

“Seandainya ada catatan lain yang mampu menguatkan tulisan Pak Damin, mungkin akan dapat mengajukan sidang ulang.”

“Kalau ada catatan lain ….” Marni mengulangi kalimat itu.

Dendam menghuni kepala Marni lebih lekat. Haruskah kucari juga catatan semacam itu di lemari bapakku? Haruskah kutanyakan kepada Ibu? (Flo)

No plagiat!

Allah Maha Tahu ya gaes yaaa.

Enjoy ceritanya yaa ^^

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *