MARNI (Bagian 2)

Pastipas.id – Tengkulak singkong di desa Trembayan dikerumuni orang sampai tak terlihat bahkan ujung rambutnya. Pak Yipan, dan beberapa pekerjanya sibuk menghitung harga tumpukan karung singkong sebab musim panen. Berpuluh-puluh karung diangkut dari lahan pertanian. Sistemnya panen berkelompok. Orang yang punya lahan menyerahkan hasil panennya mulai dari proses pencabutan ke Pak Yipan dan pekerjanya. Sehingga, harga yang dihasilkan dari penjualan harus dipotong untuk upah pencabutan.

Marni juga sedang ikut menjual hasil panennya. Baru juga ia letakkan kepala menyandar di tumpukan jerami sambil berdiri, ia dikagetkan dengan beberapa petani yang memprotes hasil panen mereka. Beberapa orang lainnya gaduh karena hal lain.

Harga singkong anjlok lagi!

Yu Ginem, istri Pak Yipan keluar dengan membawa tas hitam biasa berisi upah untuk petani. “Kami hanya mengikuti harga pasar, Pak, Buk!” tegasnya, tak menerima protes dari warga.

Bacaan Lainnya

Marni memikirkan tentang turunnya harga. Apakah ini ada hubungannya dengan kebijakan penyerahan lahan? Apakah kami akan dibuat merugi supaya mengikuti arahan mereka? Supaya menyerahkan lahan karena kami tak cukup untung karenanya?

Ah, tetapi bukan itu yang membuat hati Marni terasa ditabur garam. Beberapa warga bergumam pihak pabrik dan Martin Sastro saat ini sedang melakukan kunjungan di lahan. Betapa karenanya hati Marni menjadi gundah. Tetapi jelas tekad untuk mempertahankan hak milik tak akan goyah. Persetan dengan kebijakan! batinnya.

Memang Marni sudah dapat memastikan: pihak pabrik dan Martin Sastro jelas akan berkunjung dalam waktu dekat. Ia jadi ingat surat persetujuan yang diterimanya kemarin malam. Bahkan Ibunya pun belum ia beri tahu. Lagipula, tak mau dirinya menambah beban perasaan perempuan yang sudah menginjak empat puluhan itu.

“Marni, aku harus ke lahan sebentar. Kau pulang saja dulu!” tutur Pak Dhe Maijan, tetangga sekaligus adik lelaki mediang bapaknya. Dia lah yang membantu Marni sehari-hari untuk mengurus urusan laki-laki di rumah, seperti membenahi genteng yang mulai rusak sampai membantu panen hasil lahan. Sedang Sanikem harus sudah berangkat bekerja pagi-pagi, pergi ke rumah  Pak Lurah untuk menjadi pengrajin sulaman di toko kecil milik Bu Lurah setiap hari kerja, kemudian baru ke sawah mulai pukul dua siang sampai sore.

Marni yang usai menerima uang hasil panennya menyadari Pak Dhe Maijan sudah berlalu. Ia mengikuti dari belakang. Rupanya memang banyak orang menuju ke lahan pertanian. Beberapa di antaranya pamong dan perangkat desa lainnya.

Orang-orang berseragam itu memang sudah berada di lahan. Bahkan Martin Sastro telah memerintahkan beberapa pekerjanya untuk mengukur tanah. Tetapi mata Marni teralihkan kepada dua anak muda yang terlihat mengamati  Martin Sastro dan pihak pabrik agak jauh dari kerumunan warga. Di situasi riuhnya warga memprotes tindakan Martin Sastro, pikiran Marni melayang mengingat berita di koran yang dibacanya semalam. Berita di bawah perkara pembangunan pabrik: Anak dari Korban Pabrik Goela di Desa Sambi Empat Tahoen Laloe Memprotes Keras Dibangoennja Pabrik Goela Djawa jang Baru.

Tanpa sepengetahuan Pak Dhe Maijan, Marni bergegas ke arah dua pemuda itu. Dari tatapan mata mereka ke arah Martin Sastro dan pihak pabrik, jelas dua pemuda itu adalah anak yang dimaksud di dalam koran. Marni membatin. Dan begitu ia dekati, pemuda itu menatapnya waspada.

“Dari ciri-ciri yang disebutkan, engkau berdua pemuda yang menolak pembangunan pabrik yang dimaksud di koran?” tanya Marni berselimut tuduhan, meski jelas ia tak bermaksud begitu. Rasa penasaran yang sungguh membuatnya tergesa-gesa.

Dua pemuda itu rupanya kakak beradik, Marni berspekulasi. Dilihat dari seragam yang mereka pakai, mereka bersekolah di SLTA yang  cukup bergengsi di kota Boene. Itu menandakan bahwa mereka bukan warga Desa Trembayan. Tidak tahu apa yang membuat mereka mencoba menolak pembangunan pabrik ini. Dan itulah yang ingin Marni tahu. Mengapa? Mengapa? Mungkinkah mereka hanya relawam? Mungkinkah mereka anak orang kaya yang punya kekuatan untuk menghentikan pembangunan pabrik? Atau mungkin mereka-

Pemuda itu tak menjawab. Mereka seolah tak ingin terlibat dengan Marni. Tetapi dalam sekejab Marni tertegun mendapati jawaban atas pertanyaannya sendiri. Dan dalam sekejab juga Marni memberanikan diri menjadi lebih dekat dengan mereka. “Bapakku korban Pabrik Gula empat tahun lalu!” katanya, dan dua pemuda itu menunjukkan reaksi.

Salah seorang pemuda itu memegang tangan Marni erat, “Kau sungguh-sungguh?” tanyanya mendesak. “Ya!” Marni tak ragu-ragu.

Dua pemuda itu saling menatap. “Sudah kuduga! Bapak kita tak mati sendirian! Ada banyak orang yang menjadi korban tetapi keluarga mereka dibungkam!” ucap salah satunya.

“Apa yang kau maksud dengan dibungkam?” Marni tak mengerti. Itu jelas, sebab pabrik hanya mengatakan bahwa bapaknya mengalami kecelakaan, tak lebih dari sekadar itu.

“Ikut aku!” Marni mengikuti dua pemuda itu mejauh dari kerumunan warga yang juga memprotes.

Langit mau hujan. Tanpa begitu memedulikan warga, terlihat Martin Sastro dan pihak pabrik juga sudah akan pergi. Marni fokus dengan jalanan yang penuh bongkahan tanah. Tak tahu ia diajaknya ke mana. Yang ia tahu ia akan menjemput kebenaran.

“Kau akan tahu kami!” ujar seorang pemuda itu.

Ah, mereka bahkan belum berkenalan. Tetapi Marni mengabaikan rasa penasaran tentang nama, “Kalian? Memang kalian sebenarnya apa?” tanya gadis itu.

“Kami punya markas tempat anak-anak yang bapaknya meninggal korban pabrik gula empat tahun lalu. Kami akan membongkar yang sebenarnya terjadi!”

“Markas?”

“Ya. Kau tidak sendirian. Kami ada banyak sekali!”

Sejadinya hati Marni mencelos. Bukan karena terkejut mendapati korban ada banyak, lepas dari itu pikirannya melayang pada: betapa beraninya mereka yang sanggup menentang! Dan dia akan ikut! Marni akan ikut! (Flo)

No plagiat!

Allah Maha Melihat yaa gaeess 😀

Enjoy!

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *