Kontroversi Pemecatan Pegawai KUA Bojonegoro: Kepala Kemenag Diduga Plintir Fakta

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro Abdul Wakhid
Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro Abdul Wakhid

Pastipas.id, Bojonegoro – Kasus pemecatan sepihak oleh Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro terhadap Pegawai Tidak Tetap (PTT) kembali mengemuka. Seperti bola panas, isu ini terus menggelinding dan menarik perhatian publik.

Gunowo Abdul Ghofur, Ketua Rejo Semut Ireng Bojonegoro, menyampaikan keprihatinannya terhadap pernyataan Kepala Kemenag, Abdul Wakhid, yang menyudutkan Mujib Ridwan, pegawai KUA yang dipecat tanpa alasan pada Senin (8/7/2024).

“Saya simpati dengan kasus pemecatan ini. Saya turun ke lapangan untuk cek fakta. Informasi yang saya dapat, Mujib itu tidak pernah bolos kerja,” tegas Gunowo.

Gunowo menilai pemecatan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat karena belum ada Surat Keputusan (SK) resmi. Pemecatan dilakukan secara lisan, tanpa bukti tertulis yang sah.

Bacaan Lainnya

“Kalaupun ada keluhan warga, itu ada prosedurnya. Bukan serta merta Kepala Kemenag turun tangan memberi sanksi. Apalagi tidak ada surat teguran dari Kepala KUA,” tandasnya.

Sebagai Takmir Masjid di Desa Margomulyo, Gunowo menjelaskan prosedur yang seharusnya dilakukan jika ada pegawai yang tidak bekerja dengan baik. Kepala KUA harus melaporkan tindakan indisipliner PTT, memberikan tiga kali surat teguran sebelum mengeluarkan SK Pemberhentian.

“Jadi kalau tidak ada surat teguran dari Kepala KUA, berarti tidak ada yang dilanggar,” tegasnya.

Gunowo menduga ada indikasi politik di balik sikap Kepala Kemenag yang arogan terhadap Mujib, yang juga merupakan putra dari Ketua MWC NU Tambakrejo.

“Dugaan saya, ini karena perbedaan pilihan politik. Sudah rahasia umum kalau Kepala Kemenag itu memihak salah satu bakal calon bupati di Pilkada 2024 yang sekarang menjabat sekda,” tudingnya.

Gunowo juga menyebut keputusan Kepala Kemenag Bojonegoro atas pemecatan Mujib Ridwan tidak manusiawi. Apalagi, Mujib baru saja menikah dan satu-satunya mata pencahariannya adalah sebagai pegawai KUA.

Namun, Kepala Kemenag Bojonegoro, Abdul Wakhid, membantah melakukan pemecatan dan mengklaim bahwa ia hanya memberikan pembinaan.

“Saya mendapat laporan warga terkait pelayanan di KUA Tambakrejo yang kurang maksimal. Saya memanggil dan membina, tapi malah menantang kapan diberhentikan. Lalu saya suruh keluar. Keluar itu bukan keluar dari pekerjaan, tapi dari ruangan,” elaknya.

Ketika ditanya apakah ia mengetahui bahwa setelah pemanggilan tersebut Mujib Ridwan berpamitan dan tidak bekerja sejak Selasa (9/7/2024), mantan guru Agama di SMA Negeri 4 itu mengaku tidak tahu-menahu.

“Saya tidak tahu, dia masuk kerja atau tidak,” ucapnya.

Wakhid juga belum berencana memenuhi prosedur pemecatan yang seharusnya. Ia berencana memanggil Mujib secara kelembagaan melalui salah satu Kepala Bidang (Kabid) di Kemenag.

“Kalau kemarin panggilnya secara kekeluargaan, bukan kelembagaan. Meski ketemunya di kantor,” ujarnya.

Mujib Ridwan, PTT KUA Tambakrejo, kepada menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menantang untuk diberhentikan. Ia mengakui pernah dipanggil dua kali, namun tidak bisa hadir sekali karena ada keperluan.

“Saya pernah dipanggil dua kali, tapi waktu itu tidak bisa datang. Waktu pemanggilan kedua di kantor Kemenag Bojonegoro saya langsung diberhentikan secara lisan,” pungkasnya. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *