1 dari 20 Remaja di Indonesia Terdiagnosis Memiliki Gangguan Mental

Pastipas.id – Urgensi penanganan masalah kesehatan mental anak muda di Indonesia kian meningkat usai terjadinya kasus kematian mahasiswa baru FISIP UGM beberapa waktu lalu.

Dugaan sementara, mahasiswa tersebut melakukan aksi bunuh diri dengan melompat dari lantai 5 salah satu hotel di Yogyakarta.

“1 dari 20 (sekitar 5,5%) remaja di Indonesia terdiagnosis memiliki gangguan mental, mengacu pada Manual Diagnosis dan Statistik Gangguan Mental (DSM-V). Keluaran American Psychological Association (APA),” ungkap Amirah Ellyza Wahdi, mahasiswi Universitas Gajah Mada di theconversation.com.

Amirah juga menuturkan bahwa usaha untuk melakukan perbaikan kondisi mental ini selalu terganjal satu hal, yaitu tidak adanya data berskala nasional mengenai hasil diagnosis kesehatan mental remaja di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Melalui penelitiannya bersama University of Queensland di Australia dan Johns Hopskins Bloomberg School Public Health di Amerika Serikat (AS), Amirah mengungkapkan akan menerbitkan jurnal berjudul Indonesia Nasional Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS).

Amirah berharap I-NAMHS akan membantu mengisi kekosongan data tersebut. Ia mengatakan, gangguan kecemasan (anxiety disorder) menjadi gangguan mental paling umum di antara remaja 10-17 tahun di Indonesia (sekitar 3,7%).

“Lalu gangguan depresi mayor (1,0%), gangguan perilaku (0,9%), serta gangguan stress pascatrauma (PTSD) dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) yang masing-masing diderita oleh 0,5% populasi usia tersebut,” imbuhnya.

Merasa cemas, Amirah menekankan bahwa layanan kesehatan mental remaja menjadi hal yang harus menjadi prioritas Indonesia.

“Di seantero negeri, misalnya, hanya ada sekitar 0,29 psikiater dan 0,18 psikolog per 100.000 penduduk,” tandasnya.

Melalui theconversation.com, Amirah juga menyatakan ada sekitar 2,45 juta remaja di seluruh Indonesia yang termasuk dalam kelompok Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

“Mengingat bahwa hampir semua remaja di Indonesia bersekolah, tenaga kependidikan juga bisa menjadi alternatif utama untuk memastikan semua remaja yang membutuhkan dukungan kesehatan mental sehingga bisa mendapatkan bantuan dan rujukan yang layak,” pungkasnya. (Flo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *